Friday, 06 July 2012 19:09    PDF Print E-mail
Panglima TNI harus bertanggungkawab insiden Harjokucaran
Warta - Nusantara
WASPADA ONLINE

MALANG - Bentrokan berdarah akhirnya terjadi di lahan sengketa Desa Harjokuncaran, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.

Sampai berita ini ditulis pukul 17.20 WIB, suasana tegang masih terjadi di Harjokuncaran. Tiga mobil Dalmas Polres Malang nampaknya baru saja dikerahkan dan terlambat datang untuk meredam suasana sebelum bentrok terjadi.

Fakta di lapangan menyebutkan, TNI AD dari Kesatuan Zeni Tempur (Zipur) V Kepanjen, Provos TNI AD, Koramil dan Korem sudah berada di Desa Harjokuncaran setelah salat Jumat. Tanda-tanda bentrok terjadi, sudah terasa saat 3 Peleton pasukan Zipur, parkir truknya di pinggir jalan raya dekat lahan sengketa.

Warga yang mendengar itu, spontan bereaksi. Mereka berkumpul di rumah warga yang lokasinya hanya 150 meter dari Koramil Sumbermanjing Wetan dan konsentrasi prajurit TNI AD. Kapolsek Sumbermanjing Wetan, AKP Farid Fathoni pukul 14.10 WIB sempat menemui warga.

Melalui Kapolsek, warga meminta TNI menarik diri dan keluar dari desanya. Hal itu dikarenakan perintah prajurit datang dari komandan untuk mencabut patok tanah sengketa.

"Kami minta TNI menahan diri. Tapi, mereka tetap saja melanggar kesepakatan. Ini sudah melanggar HAM. Secepatnya, kami akan buat surat dan minta Panglima TNI bertanggung jawab atas insiden bentrokan ini," ungkap Faturohzi, juru bicara warga Desa Harjokuncaran sambil menunjukkan kepalanya yang bocor dipukuli tentara.

Entah dapat perintah dari komandan siapa dan berpangkat apa, 3 peleton prajurit TNI AD justru merangsek maju dengan berjalan kaki. Menerobos kerumunan ratusan warga, bentrokan fisik pun tak terelakkan.

Bentrok fisik di sepanjang jalan Harjokuncaran, sebenarnya masih bertaraf kecil. Aksi saling tendang, pentung dan lempar batu serta hantam-hantaman, terjadi saat 3 peleton prajurit TNI AD, mencabut patok dan merobek segel dari warga yang isinya, surat dari Komnas HAM jika tanah yang diklaim Puskopad adalah berstatus landreform.

Lima warga yang terluka akibat bentrok masih mendapatkan perawatan di rumah salah seorang koordinator perjuangan sengketa tanah. Dari kubu TNI AD sendiri, sejumlah prajurit dan pria berpakaian provos, mengalami luka di bagian kepala yang terus mengucurkan darah.
(dat18/inilah)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment